Showing posts with label Disaster Risk Reduction. Show all posts
Showing posts with label Disaster Risk Reduction. Show all posts

(Bukan) Kolam Susu

Tahun 2012, ditemani 2 rekan kerja dan 2 petugas pambut (sebutan untuk perahu mesin tradisional berukuran kecil), perjalanan dari daratan Sangir ke ke Pulau Lipang kami tempuh dalam waktu hampir 2,5 jam. Selama itu, saya hanya pasrah, terombang-ambing dalam sebuah perahu kecil yang mestinya hanya untuk menampung 3 orang. Aku, berada di titik antah berantah. Otakku tak mampu memperkirakan dimana persisnya aku berada saat itu, tak ada Lipang di peta Indonesia. 
Kolam Susu, media penampung air hujan di Pulau Lipang

Disaster Risk Reduction Terminology


After Tsunami 2004, Disaster Risk Reduction (DRR) perspective has been frequently raised. Howerver, the understanding of DRR itself is still diverse. Whether is important or not, mistakes in understanding the meaning of DRR and various related terms at the end often lead us to a wrong  decision. The following are various terms and the definitions according to UNISDR in order to ease myself in writing and finding certain definition on DRR.

Perubahan Iklim dan Keadilan Gender

Berbagai krisis dan bencana terus terjadi. Sebagian besar disebabkan kegagalan global pembangunan yang menggerus kekayaan alam dan mengabaikan daya dukung lingkungan. Akibatnya, krisis bertambah dalam, termasuk meningkatnya ancaman bencana, seperti kekeringan, banjir, perubahan cuaca ekstrim, gagal panen, meningkatnya hama tanaman, penyakit, datang silih berganti di berbagai wilayah.

Dampak perubahan iklim yang begitu cepat terjadi. Dihadapi warga tanpa Informasi yang mencukupi, kemampuan bertahan hidup yang lemah, khususnya perempuan. Celakanya, di tengah krisis yang terus menghimpit, ancaman lain justru datang dari sistem dan praktek politik saat ini. Otonomi daerah yang bercita-cita mendekatkan akses dan kontrol rakyat terhadap sumber daya alamnya, justru mempersempit ruang hidup perempuan. 

Buku "Keadilan Gender dalam Keadilan Iklim" adalah hasil dari dorongan dan kesadaran anggota kelompok Masyarakat Sipil Untuk Keadilan Iklim. Ia lahir dari partisipasi dan konstribusi banyak pihak, beragam latar. Diterbitkan oleh Civil Society Forum (CSF) for Climate Justice, proses penyusunan buku ini melalui proses panjang, sebelum sampai ke publik. Semoga ia berguna mendorong keadilan iklim yang berkeadilan gender. 

Baca di sini: Keadilan Gender dalam Keadilan Iklim


Mau Selamat, Adaptasi..!

Doc. Bingkai Indonesia
Hujan yang biasa menjadi dambaan, kini begitu menjengkelkan. Pak Hasan, hanya bisa termenung melihat tumpahan air dari langit yang tak kunjung berhenti. Hati kecut mengingat bibit padi yang telah siap tanam. Akankah mengalami gagal tanam seperti tahun sebelumnya? Karena lahan pertanian yang tidak seberapa tergenang parit yang biasanya setia mengairi sawahnya dan mengantarkan kegembiraan saat panen tiba.

Hasan Petani dari Aceh Timur, hanya satu dari 46,7 juta jiwa petani di Indonesia yang mengalami kebingungan menghadapi berubahnya musim. Musim yang biasanya dapat dengan mudah diprediksi kapan datangnya; baik musim hujan maupun kemarau, kini begitu mistrius. Petani sering terkecoh. Hujan yang awalnya begitu rutin, tiba-tiba berhenti dan tak lagi datang sama sekali. Saat musim hujan betul-betul datang, dimana masa tanam akan dimulai, penanaman tidak begitu saja dapat dilakukan. Karena ancaman banjir menjadi momok. Jika pun dipaksa, kecil kemungkinan tanaman tersebut selamat sampai panen. 

Persoalan petani saat ini bertambah kompleks.  Belum selesai persoalan ketersediaan modal, ketersediaan pupuk dan pestisida dan harga jual yang layak, kini muncul masalah baru. Masalah yang lebih serius karena mengancam kehidupannya yang paling mendasar. 

Pangan dan Ketahanan Pulau Kecil


Perubahan iklim kini bak sosok hantu. Gambaran dampak buruknya begitu nyata; meningkatnya ancaman bencana, sebaran wabah, hama, hilang atau terganggunya mata pencaharian, terancamnya ketersediaan stok pangan, krisis air bersih sampai hilangnya pulau-pulau karena kenaikan muka air laut.
Sagu, salah satu makanan pokok di Maluku (Ina, 2015)    

Menjadi Masyarakat Siaga Bencana


INI bukanlah saat yang pas untuk bicara bencana. Apalagi kalau itu berkaitan dengan Seuramo Mekkah, Aceh. Meskipun berita banjir dan kebakaran kerap mewarnai halaman koran dan media televisi, tak banyak yang mengangkat isu ini lebih serius dari sekedar laporan kejadian dan jumlah korban. Tapi menjelang akhir tahun nanti, pastilah kantor pemerintah dan LSM, kampus sampai warung kopi akan ramai dengan workshop, dialog dan ragam acara lain bertajuk “Refleksi 12 Tahun Tsunami”.

Melawan Takut

Makna sesungguhnya dari keberanian adalah takut. Lalu, dengan lutut gemetar, kau terus melangkah. Ya, kau memang harus terus melangkah. Kendati takut itu mengerubungimu. Dunia akan terus bergerak, dan adalah niscaya bagi siapa pun untuk terus bergerak juga. tak mungkin kau hanya terpaku, diam di tempat hanya gegara persoalan takut yang sedang kau alami sekarang ini.


Sumber: uc.blogdetik.com

Community-Based Risk Reduction


Indonesia is a country that is highly prone to hazards due to its geographical position. Historical disaster data have shown that the country has experienced numerous major disasters such as earthquakes, tsunamis, landslides and volcanic eruptions. Indonesia’s position in the equatorial zone with its tropical climate that has two seasons poses other potential hazards: floods, land mass movement, windstorms, drought, forest and land fires, and diseases and epidemics. 

Indonesia, Climate Change Adaptation and Disaster Risk Reduction

Indonesia is a country that is highly prone to hazards due to its geographical position. Indonesia poses potential hazards of floods, land mass movement, windstorms, drought, forest and land fires, and diseases and epidemics. Recently the global climate change has also started to have impacts on many areas in the archipelago. Climate change has increased the frequency and intensity of climate-related hazards, increased the vulnerability of the poor, and decreased the capacity of many in dealing with hazardous events. It has influences over critical sectors like health, water, food, livelihood, education and infrastructure.

Perempuan dan Pangan di Pulau Kecil


Perempuan secara sosial budaya lebih dekat dalam pengelolaan sumberdaya alam. Perempuan juga secara kultural  ditempatkan sebagai pengatur atau pengolah bahan pangan. Peran strategis perempuan dalam mengelola pangan berkorelasi erat dengan salah satu indikator ketahanan atau ketangguhan dalam adaptasi perubahan iklim maupun pengurangan risiko bencana. wilayah kepulauan kecil sebagai lokasi riset selain untuk memotret peran strategis perempuan dalam mendorong peningkatan ketahanan atau ketangguhan, juga menjadi bagian dari refleksi atas upaya pengurangan risiko bencana dan pembangunan yang sampai saat ini bias daratan

Perubahan Iklim dan Risiko Bencana

“Kami hanya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada. Banjir semakin tinggi, kami harus meninggikan rumah kami. Biar banjir tidak masuk ke dalam rumah. Tapi, saya bingung kalau banjirnya semakin tinggi”.
Muhammad Ali – Warga Demak

Di wilayah yang rutin didatangi banjir atau rob, model bangunan rumah umumnya telah menyesuaikan dengan ancaman banjir;Model rumah panggung, lantai yang lebih tinggi atau bangunan dua lantai. Tersedia juga tempat aman dari air banjir untuk menyimpan berbagai barang berharga. Lebih dari itu, warga juga telah menyiapkan peralatan mobilisasi atau penyelamatan diri seperti perahu, perahu karet, ban dalam mobil, kompan atau pelampung. Demikian juga pada jenis mata pencaharian. Masyarakat umumnya memiliki lebih dari satu jenis mata pencaharian yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Apa yang dilakukan komunitas pada kawasan banjir merupakan bentuk penyesuaian diri dengan lingkungan. Penyesuaian tersebut akan bertahan dan berkembang mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi sampai pada batas kemampuan komunitas itu sendiri untuk bertahan hidup.